*Bandar Lampung* — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Barisan Pemuda Demokrasi Indonesia (BPDI), **Ahmad Syukri, ST., SH., CPM**, mengimbau masyarakat untuk menyikapi pergantian tahun dengan sikap yang lebih bijak dan penuh empati. Ia meminta warga tidak larut dalam euforia berlebihan, termasuk menghindari penggunaan petasan dan kembang api, terlebih di tengah rentetan bencana alam yang melanda sejumlah daerah, khususnya di Aceh.
Ahmad Syukri menyampaikan bahwa pergantian tahun seharusnya dimaknai sebagai momentum refleksi, bukan sekadar perayaan tanpa batas. “Saat ini saudara-saudara kita di Aceh sedang menghadapi cobaan berat akibat bencana alam. Sudah sepatutnya kita menahan diri, menunjukkan empati, dan mengalihkan energi perayaan menjadi doa serta kepedulian sosial,” ujar Ahmad Syukri dalam keterangannya, didampingi Sekretaris Jenderal DPP Bapeksi, **Angga Brawijaya**, Selasa.
Ia menegaskan, penggunaan petasan dan kembang api tidak hanya berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga dapat memicu kecelakaan serta memperburuk situasi di daerah-daerah yang sedang berduka. Menurutnya, kebiasaan tersebut kerap menyisakan persoalan klasik setiap akhir tahun, mulai dari kebakaran, luka bakar, hingga keresahan warga.
Imbauan DPP BPDI ini, kata Ahmad Syukri, sejalan dengan pernyataan Kapolri yang mengajak masyarakat merayakan malam pergantian tahun secara sederhana, aman, dan tidak berlebihan. “Kami mendukung penuh imbauan Kapolri. Ini bukan soal melarang kebahagiaan, melainkan mengajak masyarakat lebih dewasa dalam mengekspresikan kebahagiaan itu,” katanya.
Lebih jauh, Ahmad Syukri menyoroti kondisi Aceh yang kembali diuji bencana alam. Ia menilai, tragedi tersebut harus menjadi pengingat kolektif bahwa keselamatan dan solidaritas sosial jauh lebih penting daripada kemeriahan sesaat. “Di saat sebagian saudara kita kehilangan tempat tinggal, bahkan anggota keluarga, rasanya tidak elok jika kita berpesta dengan hingar-bingar petasan,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal DPP BPDI, Angga Brawijaya, menambahkan bahwa pihaknya juga mendorong generasi muda untuk mengambil peran aktif dalam kegiatan positif pada malam tahun baru. “Daripada konvoi atau menyalakan petasan, lebih baik menggelar doa bersama, aksi sosial, atau penggalangan bantuan untuk korban bencana di Aceh,” kata Angga.
Menurut Angga, pendekatan seperti ini tidak hanya menjaga ketertiban umum, tetapi juga menumbuhkan kepekaan sosial di kalangan pemuda. Ia berharap, semangat solidaritas dapat menjadi wajah baru perayaan tahun baru di Indonesia.
DPP BPDI mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya anak muda, untuk menjadikan pergantian tahun sebagai titik awal memperkuat rasa kemanusiaan dan persatuan. “Tahun baru seharusnya kita sambut dengan harapan dan kepedulian, bukan dengan kebisingan yang justru menyakiti sesama,” ujar Ahmad Syukri menutup pernyataannya.
