Lensa indo — Awalnya saya hanya iseng. Saya mengunduh salah satu aplikasi sosial media yang cukup terkenal, dengan niat sederhana: mencari teman ngobrol, tanpa pikiran macam-macam.
Di hari pertama, saya mulai mengobrol dengan seorang perempuan. Percakapan terasa hangat dan menyenangkan. Namun, kurang dari tiga hari, dia mulai meminta “uang jajan”. Tanpa rasa curiga, saya pun mentransfer.
Beberapa hari kemudian, saya mencoba mengobrol dengan perempuan lain. Ternyata, kejadiannya hampir sama. Awalnya ramah, manis, dan penuh perhatian. Lalu perlahan muncul kata sayang, ungkapan cinta, bahkan ajakan bertemu. Tetapi pada akhirnya selalu bermuara pada permintaan transfer uang.
Rasa penasaran mulai muncul: kebetulan, atau ada sesuatu yang janggal?
Selama 50 hari, saya melakukan eksperimen kecil. Saya mengobrol dengan 163 akun perempuan berbeda di aplikasi tersebut. Hasilnya mengejutkan — hampir semuanya menunjukkan pola yang sama:
- Chat intens dan penuh rayuan, seolah-olah menyukai saya,
- Banyak alasan saat diminta pindah ke WhatsApp (tidak ada kuota, keblokir, nanti saja ya sayang),
- Ujungnya meminta uang untuk isi kuota atau pulsa,
- Ada yang mengaku jomblo, janda, patah hati, bahkan ingin hubungan serius,
- Tetapi akhirnya selalu satu tujuan: uang.
Salah satu pengalaman paling jelas terjadi ketika saya sudah berjanji untuk bertemu. Dia meminta uang dengan alasan ongkos ojek online. Saya transfer. Tak lama, dia mengklaim uangnya belum masuk. Saya cek, ternyata sudah terkirim. Saya pun membatalkan pertemuan.
Sejak saat itu, akun tersebut menghilang, tak bisa dihubungi, tanpa penjelasan apa pun.
Dari sini saya mulai menyadari: kuat dugaan akun-akun itu bukan pengguna biasa, melainkan bagian dari jaringan tertentu. Mereka mengejar interaksi sebanyak mungkin dari laki-laki. Semakin banyak chat dan gift, semakin besar penghasilan mereka.
Rayuan hanyalah alat. Perasaan hanyalah umpan. Pertemuan hanyalah janji palsu.
Mereka memainkan emosi dengan berbagai skenario:
- pura-pura jatuh cinta,
- memancing rasa kasihan,
- menawarkan video call, konten pribadi, bahkan percakapan vulgar,
- lalu menutup semuanya dengan permintaan transfer.
Ketika saya mulai menyinggung pola penipuan ini, mereka langsung menjauh, dengan alasan klasik:
“Sepertinya kita tidak cocok.”
Ada juga yang jaraknya jauh, mengaku mau datang menemui saya, tapi tetap meminta uang. Bahkan ada yang menuduh foto mereka dicuri atau disalin saat saya mempertanyakan identitasnya.
Peringatan keras dari pengalaman pribadi saya:
Jangan mudah percaya dengan rayuan manis di aplikasi sosial media. Jangan mengirim uang kepada orang yang belum pernah Anda temui langsung. Tidak semua yang terlihat tulus, benar-benar nyata.
Jay
